Sabtu, 15 September 2012

Ketika Komentar Bukanlah Sekedar Komentar

Filled under:



Dari tahun 2007 saya mulai mengenal blogging sampai saat ini, kegiatan yang selalu dilakukan adalah meninggalkan komentar di blog yang telah disinggahi. Selama berkomentar itu pula saya mendapati berbagai jenis macam tipe komentar mulai dari komentar yang sangat panjang lebar sampai komentar yang cuma satu atau beberapa kata seperti "mantap", "great article", "terima kasih untuk sharingnya" trus waktu jaman lagi gila-gilanya menjadi "pertamax" :)

Komentar blogger luar dan blogger Indonesia

Ada perbedaan yang menurut saya sangat mencolok antara komentar blogger luar negeri sana dengan blogger tanah air seperti kita ini. Rata-rata komentar yang mereka utarakan sangat bermanfaat dan bisa menjadi pelengkap artikel dari si empunya blog, kadang komentar mereka merupakan pertanyaan yang menurut saya lebih advanced dari artikel yang di-share.

Jawaban dari si empunya blog sangat detail dan tak jarang mereka dengan sabar menjawab satu persatu pertanyaan yang di lempar oleh pengunjung blog.

Bagaimana dengan komentar blogger-blogger dalam negeri? Dari sekian banyak blog yang saya kunjungi dan juga komentar yang saya dapati di blog saya sendiri. Komentar dari blogger dalam negeri cenderung pendek, ringkas, singkat dan padat :)

Tak terkecuali saya ketika berkomentar di blog sesama blogger Indonesia, saya juga sangat sering meninggalkan komentar singkat.

Apa yang terjadi?

Menurut pandangan saya, komentar yang singkat itu seringkali disebabkan kurangnya niat membaca artikel tersebut (malas -red) atau hanya karena ingin membalas balik komentar teman blogger tersebut (orang Indonesia kan katanya punya tenggang rasa yang tinggi)

Atau bisa juga terjadi karena niatnya hanya untuk meninggalkan jejak atau link untuk mengejar popularitas. Menurut blogger penganut paham ini popularitas bisa dicapai dengan menjadi komentator pertama yang tampil diposting terbaru, dengan itu setiap pembaca (yang pastinya rame) yang rampung membaca artikel menemukan blog mereka pertama sekali di kolom komentar.

Popularitas ini juga bisa diartikan link popularity/link authority/backlink yang bertujuan untuk meningkatkan rangking di mesin pencari terutama Google. Oleh karena itu tak jarang kolom nama pengomentar (tukang komentar) bukan nama seseorang melainkan keyword yang dikejar untuk menaikkan rangking halaman web atau blog yang mereka promosikan.

Hal ini pernah saya lakukan waktu awal tahun 2010 sebelum scrapebox sangat popular dan membuat Google mengeluarkan jurus panda dan penguin yang membuat cara ini kurang berhasil (apalagi kalau manual - capek euy)

Fenomena komentar pembaca portal Detik.com

Sudah lama saya ingin mengutarakan hal ini, sebagai pengunjung regular website Detik.com yang tujuannya melihat berita bola terbaru. Saya sering bahkan sangat sering menjumpai komentar yang sangat tidak berbobot.

Hampir 90 persen isi komentar dari berita di detikSport berupa ejekan, cemoohan antara satu supporter sebuah klub dan klub lainnya. Ini menunjukkan bahwa para komentator belum dewasa (atau memang pengunjungnya masih anak-anak semua ya?)

Bagaimana sebaiknya berkomentar?

Sebelum itu kita perlu mengingat kembali bahwa apapun yang kita lakukan semuanya tercatat dan akan dipertanggungjawabkan di hari akhir nanti. Dengan mengingat hal tersebut maka apapun yang akan kita lakukan akan lebih terjaga dari hal-hal yang tidak berguna. Dengan meresepi dan mempraktekkannya dengan berkomentar dengan baik dan kalau bisa memberikan nilai tambah baik bagi pemilik blog/website/portal/forum yang dikomentari.

Satu hal penting lainnya yang perlu digarisbawahi adalah segala sesuatu intinya ada pada niat. Kalau niat ingin berkomentar dengan baik maka dengan sendirinya hal-hal baik yang akan keluar, seperti solusi, menambah tali silaturahmi dan hal-hal baik lainnya. Bukan membuat onar dan perpecahan dengan membuat komentar yang menyudutkan atau bersifat mencomooh.

Semoga ada manfaatnya

(image by premasagar)


0 komentar:

Poskan Komentar